watch sexy videos at nza-vids!



Another Suitcase in Another Hall
Another suitcase in another hall... Where am I going to? Where am I going to.... ? ~

Rose berdiri di peron stasiun Gambir. Saat itu pukul dua siang. Sebuah koper hitam teronggok dekat kakinya. Di bahunya tersampir satu traveling bag Elle, hitam juga. Asyik diamatinya orang yang lalu lalang dengan wajah berminyak dan tubuh berkeringat; hari yang panas dan terik. Tapi tubuhnya sendiri masih terasa sejuk, belum lima menit yang lalu saat ia keluar dari gerbong Eksekutif Tiga setelah perjalanan yang cukup panjang dari Surabaya.
"Tidak, terima kasih," ia menggelengkan kepala menolak tawaran layanan porter dan dengan santai menarik keluar tangkai trolley kopernya, beringsut pergi di antara kerumunan manusia yang juga baru tiba di ibukota.
Ia mengacungkan tangannya memanggil satu taksi biru, memasukkan koper di bagasi dan menghenyakkan tubuhnya di kursi belakang. "Sudirman", suara altonya menyebutkan nama sebuah Hotel di jantung kota Jakarta. Kota ini terakhir kali ia kunjungi tahun 1989 dan sudah menjadi salah satu target kunjungannya sejak enam bulan yang lalu. Kalau saja bencana banjir kemarin tidak melanda, kunjungan ini harusnya sudah terealisasi. Matanya menikmati pemandangan dari balik kaca jendela. Sudah tidak kelihatan lagi sisa banjir sebulan kemarin. Lalu lintas cukup lancar dan jalan-jalan protokol yang dilewati terbilang bersih. Sekali lagi ia bertanya pada diri sendiri, why Jakarta. Untuk melepaskan kepenatan kerja dan sekedar refreshing, kota ini bukan pilihan tepat. "Dante, itu jawabannya," ia tersenyum simpul sendiri. Senyum yang menurut lelaki itu, senyum kemenangan yang sudah dimilikinya sejak ia kecil. Istilah senyum kemenangan yang diberikan Dante saat pertama kali mereka bertemu.
Lamunan panjang itu membuainya lagi...

Denpasar - Bandara Ngurah Rai enam bulan yang lalu

"Para penumpang pesawat GA 249 jurusan Yogyakarta dipersilakan masuk ke pesawat melalui pintu 17"
Waktu sudah menunjukkan pukul 18:30, artinya ia baru tiba di Yogyakarta sekitar pukul setengah delapan malam. Rose bergegas bangun dari kursinya, sedikit terhuyung didera rasa kantuk karena terlalu lama menunggu dan bergegas mengambil antrian panjang di gate 17. Lalu tanpa sengaja matanya bertemu dengan seorang lelaki yang menjejeri antrean di sampingnya. Cuma sedetik, sebelum hampir berbarengan mereka membuang muka. Ia menyerahkan separuh bagian boarding pass dan melangkah cepat menuju ke pesawat.
Left window seat, 5th row. Ia meletakkan tubuhnya perlahan di situ. Penerbangan singkat membuatnya tidak terlalu gelisah. Jari tangannya mulai sibuk mengencangkan seatbelt saat seseorang yang semestinya duduk di sampingnya tiba. Ia melirik sekilas dan agak terkejut, ternyata pria yang tadi antre di sampingnya di gate 17. Dari sudut matanya Rose menilai pria yang akan menemaninya dalam satu jam penerbangan ini. Hhmm… tingginya cuma rata-rata pria Asia, sekitar 170 cm, kulitnya termasuk putih, tubuhnya kurus dan tipis. Wajahnya tirus dan dingin. Tapi mata itu sungguh menarik. Besar dengan bulu mata panjang dan lentik, pandangannya jauh menerawang, seolah tidak sedang menjejakkan kaki di tanah. Melihat wajahnya yang serius sedikit masam saat ia muncul tadi, membuat Rose merasa perjalanan kali ini akan membosankan tanpa teman berbincang.
Maka setelah lepas landas yang mulus, ia mulai mengambil posisi duduk yang paling nyaman dan menikmati Just For Laughs di televisi sambil sesekali tersenyum sendiri.
"Senyummu itu penuh kemenangan," sebuah suara bariton di sampingnya membuatnya tersentak.
"Hah?" refleks ia menyahut dan berpaling ke samping, untuk sekali lagi bertemu dengan mata itu.
"Pernah kulihat senyum seperti itu," melemah suaranya, seolah mengeluh pada diri sendiri. "Sakit, itu yang kurasakan," katanya sambil tangannya bergerak menyentuh sisi kiri atas perut.
Rose terdiam, kata-kata yang hendak keluar ditelannya kembali. Sebaliknya, ia ganti menggigiti bibir bawahnya. Matanya memandang tajam, menyelidik sebentar. Kemudian pandangannya kembali ke monitor TV.
"Mengingatkanmu pada seseorang?" Rose bertanya dengan nada datar. Berusaha menghilangkan senyum yang biasanya mengiringi bicaranya. Apalagi senyum itu membawa masalah, kali ini.
Pria itu menarik nafas dalam.
"Sorry," Rose tetap tanpa ekspresi. Bukannya khawatir akan memperburuk keadaan dengan ekspresi yang bakal keluar. Tapi lebih karena kata "sorry" yang terlanjur terucap tanpa diperintah itu, "Haruskah aku ber-sorry untuk hal yang bukan salahku."
"Bukan salahmu, hanya senyum itu." Seolah dia dapat membaca pikiran Rose. Dia tersenyum pahit. "Boleh aku berterus terang?" kali ini nada suaranya merendah.
Rose masih terdiam, kebingungan oleh situasi yang di luar dugaan.
"Dulu senyum penuh kemenangan itu memang menyakitkan, karena aku dicampakkan."
Rose menggigit bibir bawahnya makin kuat, menunggu.
Pria itu bergeser menghadap Rose yang terduduk kaku. Sangat dekat, hingga Rose bisa merasakan sapuan nafas di kulit lehernya. Seolah berbisik kepada seorang kenalan lama, "Tapi senyum penuh kemenanganmu menggodaku."
Mau tak mau Rose tertawa lebar. "Kamu lucu, tapi kalau ini strategi rayuan, maaf saya tidak tertarik."
"Oh, sudah ada yang punya?" pria itu balik bertanya dengan wajah tanpa dosa.
Rose mengangguk cepat, "He eh sudah."
Sebuah "oooooooo" panjang pria itu mengakhiri perbincangan mereka. Selebihnya Rose menikmati snack dan memandangi awan berarak dari jendela pesawat, si lelaki malah merebahkan kursi ke belakang dan memejamkan matanya.

30 menit kemudian

Touch down yang mulus di Yogyakarta. Hari sudah gelap dan penumpang bersiap turun pesawat. Pria itu masih asyik tidur (atau pura-pura tidur). Mau tak mau ia harus membangunkannya untuk bisa segera keluar.
"Ehhmm… hey, Sudah sampai," ia menepuk telapak tangan pria itu sedikit, berusaha untuk tidak mengejutkannya dari tidur. Agak gelisah ...

Another suitcase in another hall... Where am I going to? Where am I going to.... ? ~

Rose berdiri di peron stasiun Gambir. Saat itu pukul dua siang. Sebuah koper hitam teronggok dekat kakinya. Di bahunya tersampir satu traveling bag Elle, hitam juga. Asyik diamatinya orang yang lalu lalang dengan wajah berminyak dan tubuh berkeringat; hari yang panas dan terik. Tapi tubuhnya sendiri masih terasa sejuk, belum lima menit yang lalu saat ia keluar dari gerbong Eksekutif Tiga setelah perjalanan yang cukup panjang dari Surabaya.
"Tidak, terima kasih," ia menggelengkan kepala menolak tawaran layanan porter dan dengan santai menarik keluar tangkai trolley kopernya, beringsut pergi di antara kerumunan manusia yang juga baru tiba di ibukota.
Ia mengacungkan tangannya memanggil satu taksi biru, memasukkan koper di bagasi dan menghenyakkan tubuhnya di kursi belakang. "Sudirman", suara altonya menyebutkan nama sebuah Hotel di jantung kota Jakarta. Kota ini terakhir kali ia kunjungi tahun 1989 dan sudah menjadi salah satu target kunjungannya sejak enam bulan yang lalu. Kalau saja bencana banjir kemarin tidak melanda, kunjungan ini harusnya sudah terealisasi. Matanya menikmati pemandangan dari balik kaca jendela. Sudah tidak kelihatan lagi sisa banjir sebulan kemarin. Lalu lintas cukup lancar dan jalan-jalan protokol yang dilewati terbilang bersih. Sekali lagi ia bertanya pada diri sendiri, why Jakarta. Untuk melepaskan kepenatan kerja dan sekedar refreshing, kota ini bukan pilihan tepat. "Dante, itu jawabannya," ia tersenyum simpul sendiri. Senyum yang menurut lelaki itu, senyum kemenangan yang sudah dimilikinya sejak ia kecil. Istilah senyum kemenangan yang diberikan Dante saat pertama kali mereka bertemu.
Lamunan panjang itu membuainya lagi...

Denpasar - Bandara Ngurah Rai enam bulan yang lalu

"Para penumpang pesawat GA 249 jurusan Yogyakarta dipersilakan masuk ke pesawat melalui pintu 17"
Waktu sudah menunjukkan pukul 18:30, artinya ia baru tiba di Yogyakarta sekitar pukul setengah delapan malam. Rose bergegas bangun dari kursinya, sedikit terhuyung didera rasa kantuk karena terlalu lama menunggu dan bergegas mengambil antrian panjang di gate 17. Lalu tanpa sengaja matanya bertemu dengan seorang lelaki yang menjejeri antrean di sampingnya. Cuma sedetik, sebelum hampir berbarengan mereka membuang muka. Ia menyerahkan separuh bagian boarding pass dan melangkah cepat menuju ke pesawat.
Left window seat, 5th row. Ia meletakkan tubuhnya perlahan di situ. Penerbangan singkat membuatnya tidak terlalu gelisah. Jari tangannya mulai sibuk mengencangkan seatbelt saat seseorang yang semestinya duduk di sampingnya tiba. Ia melirik sekilas dan agak terkejut, ternyata pria yang tadi antre di sampingnya di gate 17. Dari sudut matanya Rose menilai pria yang akan menemaninya dalam satu jam penerbangan ini. Hhmm… tingginya cuma rata-rata pria Asia, sekitar 170 cm, kulitnya termasuk putih, tubuhnya kurus dan tipis. Wajahnya tirus dan dingin. Tapi mata itu sungguh menarik. Besar dengan bulu mata panjang dan lentik, pandangannya jauh menerawang, seolah tidak sedang menjejakkan kaki di tanah. Melihat wajahnya yang serius sedikit masam saat ia muncul tadi, membuat Rose merasa perjalanan kali ini akan membosankan tanpa teman berbincang.
Maka setelah lepas landas yang mulus, ia mulai mengambil posisi duduk yang paling nyaman dan menikmati Just For Laughs di televisi sambil sesekali tersenyum sendiri.
"Senyummu itu penuh kemenangan," sebuah suara bariton di sampingnya membuatnya tersentak.
"Hah?" refleks ia menyahut dan berpaling ke samping, untuk sekali lagi bertemu dengan mata itu.
"Pernah kulihat senyum seperti itu," melemah suaranya, seolah mengeluh pada diri sendiri. "Sakit, itu yang kurasakan," katanya sambil tangannya bergerak menyentuh sisi kiri atas perut.
Rose terdiam, kata-kata yang hendak keluar ditelannya kembali. Sebaliknya, ia ganti menggigiti bibir bawahnya. Matanya memandang tajam, menyelidik sebentar. Kemudian pandangannya kembali ke monitor TV.
"Mengingatkanmu pada seseorang?" Rose bertanya dengan nada datar. Berusaha menghilangkan senyum yang biasanya mengiringi bicaranya. Apalagi senyum itu membawa masalah, kali ini.
Pria itu menarik nafas dalam.
"Sorry," Rose tetap tanpa ekspresi. Bukannya khawatir akan memperburuk keadaan dengan ekspresi yang bakal keluar. Tapi lebih karena kata "sorry" yang terlanjur terucap tanpa diperintah itu, "Haruskah aku ber-sorry untuk hal yang bukan salahku."
"Bukan salahmu, hanya senyum itu." Seolah dia dapat membaca pikiran Rose. Dia tersenyum pahit. "Boleh aku berterus terang?" kali ini nada suaranya merendah.
Rose masih terdiam, kebingungan oleh situasi yang di luar dugaan.
"Dulu senyum penuh kemenangan itu memang menyakitkan, karena aku dicampakkan."
Rose menggigit bibir bawahnya makin kuat, menunggu.
Pria itu bergeser menghadap Rose yang terduduk kaku. Sangat dekat, hingga Rose bisa merasakan sapuan nafas di kulit lehernya. Seolah berbisik kepada seorang kenalan lama, "Tapi senyum penuh kemenanganmu menggodaku."
Mau tak mau Rose tertawa lebar. "Kamu lucu, tapi kalau ini strategi rayuan, maaf saya tidak tertarik."
"Oh, sudah ada yang punya?" pria itu balik bertanya dengan wajah tanpa dosa.
Rose mengangguk cepat, "He eh sudah."
Sebuah "oooooooo" panjang pria itu mengakhiri perbincangan mereka. Selebihnya Rose menikmati snack dan memandangi awan berarak dari jendela pesawat, si lelaki malah merebahkan kursi ke belakang dan memejamkan matanya.

30 menit kemudian

Touch down yang mulus di Yogyakarta. Hari sudah gelap dan penumpang bersiap turun pesawat. Pria itu masih asyik tidur (atau pura-pura tidur). Mau tak mau ia harus membangunkannya untuk bisa segera keluar.
"Ehhmm… hey, Sudah sampai," ia menepuk telapak tangan pria itu sedikit, berusaha untuk tidak mengejutkannya dari tidur. Agak gelisah ...

NEXT